SURABAYA (LenteraTV) – Pemerintah Kota Surabaya mulai melakukan upaya untuk mengubah stigma negatif yang melekat pada kawasan Jalan Kunti, Kelurahan Sidotopo, Kecamatan Semampir, yang selama ini dikenal dengan sebutan “Las Vegas Surabaya”. Dua pekan setelah operasi penggerebekan narkoba, Pemkot Surabaya menyiapkan anggaran sebesar Rp30 juta untuk pemberdayaan ekonomi pemuda melalui Karang Taruna.
Program tersebut diarahkan untuk mendorong generasi muda mengembangkan usaha produktif, mulai dari industri batik, menjahit, sablon, hingga usaha angkringan. Langkah ini diharapkan dapat membangun citra positif masyarakat Jalan Kunti sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga setempat.
Camat Semampir, Yunus, mengatakan program pemberdayaan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Wali Kota Surabaya untuk memperbaiki citra kawasan Jalan Kunti dan meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam kegiatan ekonomi.
Menurut Yunus, anggaran sekitar Rp30 juta telah disiapkan untuk Karang Taruna di tingkat kelurahan. Namun, hingga pertemuan dengan para pemuda digelar di Balai RW VI Sidotopo, pengajuan program usaha belum terealisasi.
Pihak kecamatan kemudian mengumpulkan para pemuda untuk membahas rencana pemanfaatan anggaran tersebut. Pemerintah menargetkan pengurus Karang Taruna dapat mengajukan proposal dalam waktu sekitar tiga minggu agar dana segera digunakan untuk menjalankan usaha.
Jenis usaha yang dikembangkan akan disesuaikan dengan minat dan kemampuan pemuda. Pelatihan membatik dan menjahit menjadi beberapa pilihan yang ditawarkan untuk membekali mereka dengan keterampilan usaha.
Yunus menegaskan, pemerintah juga akan memberikan pendampingan dalam penyusunan proposal, pembuatan surat pertanggungjawaban (SPJ), serta pemantauan penggunaan dana di lapangan. Dengan demikian, bantuan yang diberikan diharapkan dapat dimanfaatkan secara tepat dan berkelanjutan.
Antusiasme Pemuda Mulai Terlihat
Pertemuan antara pihak kecamatan, kelurahan, dan pemuda Jalan Kunti mendapat respons positif. Sejumlah pemuda mulai membahas jenis usaha yang dinilai sesuai dengan kebutuhan dan potensi lingkungan mereka.
Usaha sablon dan angkringan menjadi dua pilihan yang dipertimbangkan pemuda RW VI. Kedua jenis usaha tersebut dinilai berpotensi melibatkan sekitar 10 orang pemuda sehingga manfaat program dapat dirasakan secara bersama-sama.
Salah satu warga RW VI Jalan Kunti, Usama, mengatakan pihaknya masih berdiskusi dengan rekan-rekannya untuk menentukan bentuk usaha yang akan diajukan. Mereka berencana mematangkan pilihan usaha sebelum menyusun proposal.
Usama berharap program pemberdayaan ekonomi ini tidak hanya membuka kesempatan usaha bagi pemuda, tetapi juga membantu menghilangkan stigma negatif yang selama ini melekat pada kawasan Jalan Kunti.
Ia menilai, orang-orang yang terjaring dalam operasi kepolisian tidak serta-merta merupakan warga asli Jalan Kunti. Menurutnya, sebagian di antaranya merupakan pendatang dari luar kawasan tersebut.
Stigma negatif yang melekat pada wilayahnya selama ini, lanjut Usama, turut menimbulkan beban sosial bagi warga. Ia mengaku pernah mengalami perlakuan berbeda ketika berada di luar kawasan Kunti akibat citra negatif yang melekat pada lingkungannya.
Karena itu, Usama menyambut baik program pemerintah yang memberikan ruang bagi pemuda untuk membuktikan kemampuan melalui kegiatan ekonomi produktif.
Pendampingan dan Pengawasan Penggunaan Dana
Pihak kelurahan menyatakan siap mendampingi Karang Taruna dalam setiap tahapan program, mulai dari penyusunan proposal hingga penyusunan laporan pertanggungjawaban. Pengawasan juga akan dilakukan untuk memastikan anggaran digunakan sesuai dengan rencana usaha yang diajukan.
Pemkot Surabaya berharap program tersebut menjadi langkah awal dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat Jalan Kunti. Keterlibatan aktif generasi muda dinilai penting untuk menciptakan kegiatan positif sekaligus memperkuat potensi ekonomi lokal.
Melalui dukungan anggaran dan pendampingan pemerintah, pemuda Jalan Kunti diharapkan mampu mengembangkan usaha yang berkelanjutan. Dengan begitu, kawasan yang selama ini lekat dengan stigma negatif dapat berkembang menjadi lingkungan yang lebih produktif dan memiliki peluang ekonomi bagi warganya.
Reporter: Guntur Yudinata
Editor: Yasin Al Raviri
