SURABAYA (Lenteratv) – Menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-81, Bambang Dwi Hartono atau yang biasa disapa Bambang DH memberikan nuansa tersendiri bagi warga Perumahan Pondok Tanjung Permai-1, Semampir Barat, Sukolilo, Surabaya, dengan mengajak generasi muda melestarikan kesenian Reog Ponorogo yang menghadapi tantangan besar akibat globalisasi.
Padahal, selain membawa identitas kelokalan, Reog membawa filosofi berupa sebuah sindiran yang menggambarkan lemahnya sistem pemerintahan yang kuat akibat pengaruh kelompok tertentu.
Seni Reog lahir pada masa Ki Ageng Kutu, yang menggelarnya sebagai simbol sindiran terhadap kepemimpinan Brawijaya V atas korupsi dan lemahnya sistem pemerintahan. Reog menggambarkan burung merak yang berhasil mengendalikan seekor harimau. Analogi tersebut menggambarkan pemimpin yang kuat, tetapi justru dapat dilemahkan oleh kelompok tertentu.
Berangkat dari hal itulah, dalam momentum kemerdekaan ini, mantan Wali Kota Surabaya periode 2002–2010 tersebut memaknai kemerdekaan sebagai upaya untuk terbebas dari jerat korupsi dan belajar dari nilai-nilai luhur seni Reog Ponorogo.
Melalui pagelaran seni Reog, terdapat pesan dan analogi tersendiri di masa kini yang seakan diinisiasi oleh Bambang DH untuk menajamkan paradigma generasi muda. Seni Reog tak hanya berkolaborasi dengan unsur spiritual dan hiburan, tetapi juga memiliki pesan tentang kerinduan akan perubahan.
Bambang Dwi Hartono secara singkat menyatakan keprihatinannya bahwa generasi muda saat ini belum memahami makna kemerdekaan. Dengan kata lain, dalam konteks politik dan bermasyarakat, generasi muda dinilai belum mengetahui arah sejati kemerdekaan. Ia pun mengorelasikannya dengan korupsi yang kian masif di Indonesia. Dalam pesan singkat tersebut, Bambang DH memberikan penekanan agar generasi muda lebih kritis dalam menelaah makna perayaan kemerdekaan yang tidak sekadar menjadi euforia belaka.
“Saya tiap tahun menanggap Reog untuk mengajak anak-anak tahu tentang Reog. Apalagi, mengajak mereka langsung berinteraksi dengan personel Reog. Memang perlu upaya keras kita. Padahal, Surabaya sendiri ada 60 grup Reog. Tapi, siapa yang peduli terhadap mereka? Kalau tidak ada yang menanggap, bagaimana bisa lestari? Makanya, saya ajak adik-adik untuk menanggap Reog, berkeliling, dan saling berinteraksi. Nah, di momen ini, saya prihatin dengan maraknya korupsi. Bukan lagi miliaran, tetapi triliunan. Ayo, kita kembalikan aset negara yang dicuri,” terang Bambang DH, mantan Wali Kota Surabaya periode 2002–2010, saat ditemui di tengah-tengah warga.
Searah dengan Bambang DH, pegiat seni Reog tertua di Surabaya, Siongo Mangku Joyo, yang lahir sekitar 1970-an, mengapresiasi bahwa pada masa pemerintahan Bambang DH, kelompok seni Mangkuyaja tak pernah sepi order. Saat ini, tinggal pemimpin aktif lainnya yang dinilai masih kurang memaksimalkan pertunjukan seni Reog. Meski demikian, ia tetap mendapat order setiap tahun dari Bambang DH. Ia harus berjibaku memodifikasi materi seni Reog dengan hiburan interaktif agar tetap membuat masyarakat berminat.
“Pak Bambang DH itu memang pecinta seni budaya Jawa sejak dulu. Selama menjadi Wali Kota, kami selalu diperhatikan. Nah, sekarang hanya beliau yang bertahan memberi ruang pertunjukan. Yang lain, saya kira, sudah beralih ke seni modern,” ujar Wandi, pegiat seni Reog Ponorogo.
Pagelaran Reog di kawasan Perumahan Tanjung Permai 1, Semampir Barat, ini pun menghibur warga dari berbagai usia, baik tua maupun muda. Adapun bagi warga yang berminat menanggap atau mengundang kelompok ini, harga standarnya sebesar Rp5 juta. Harga tersebut lebih murah dibandingkan dengan pertunjukan seni modern, seperti orkes dangdut, organ tunggal, bahkan sound horeg.
Reporter: Guntur Yudinata
Editor: Yasin Al Raviri
