SURABAYA (LenteraTV) – Pemerintah terus mendorong pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih atau KNMP di berbagai wilayah Indonesia. Hasil uji coba terhadap model kampung nelayan ini menunjukkan hasil positif. Produktivitas nelayan meningkat lebih dari 100 persen, sementara pendapatan mereka naik lebih dari 50 persen.
Hal itu disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono saat Pembekalan Mitra Pembangunan dalam Penyiapan dan Perencanaan Calon Lokasi Kampung Nelayan Merah Putih Tahun 2027 di Surabaya, 26–30 Oktober 2026.
Trenggono memaparkan hasil evaluasi pengembangan model kampung nelayan yang telah diuji coba selama kurang lebih satu setengah tahun. Model awal yang dibangun adalah Kampung Nelayan Modern di Biak pada 2023, dengan melibatkan 89 nelayan, menghidupi 447 keluarga, dan didukung 46 kapal.
Dari hasil evaluasi tersebut, produktivitas nelayan meningkat lebih dari 100 persen, sedangkan pendapatan mereka meningkat lebih dari 50 persen.
Menurut Trenggono, program Kampung Nelayan Merah Putih ini berangkat dari berbagai persoalan yang selama ini dihadapi nelayan di seluruh Indonesia, di antaranya:
- Keterbatasan pasokan es untuk menjaga kualitas ikan. Ia menceritakan, saat melakukan kunjungan ke lapangan, nelayan harus mencari es hingga ke pasar dan menyimpannya seadanya menggunakan styrofoam. Akibatnya, saat kembali, kualitas ikan sudah menurun dan harga jualnya jatuh karena ditentukan oleh tengkulak.
- Minimnya fasilitas perbaikan kapal dan mesin. Jika mesin rusak, nelayan harus membawa kapal ke tempat yang jauh dengan waktu tempuh lama, bahkan terpaksa berutang kepada tengkulak.
“Ngutang lewat tengkulak dan seterusnya. Itu situasi yang terjadi. Dan saya kira itu hampir menyeluruh di Indonesia. Sulit, pabrik esnya enggak ada, kalau kapal rusak susah enggak ada bengkelnya,” ujar Trenggono.
Melalui program KNMP, pemerintah berupaya menyediakan sarana dan prasarana produksi perikanan yang memadai. Di antaranya, fasilitas penyediaan es, akses BBM, serta bengkel perbaikan kapal dan mesin nelayan.
Menurut Trenggono, kebutuhan utama nelayan bukan sekadar memiliki rumah atau permukiman yang lebih baik. Namun, sarana dan prasarana untuk melaut harus tersedia dengan mudah dan murah sehingga produktivitas meningkat.
“Yang mereka pikirkan pada waktu melaut sarana prasarananya bagus. Faktor sarana prasarana produksi untuk mereka bisa melaut itulah menjadi yang penting sehingga produktivitasnya meningkat. Kalau produktivitasnya meningkat, dampaknya akan meningkatkan pendapatannya juga,” jelasnya.
Tak hanya meningkatkan produktivitas dan pendapatan nelayan, kualitas hasil perikanan dari model percontohan ini juga mengalami peningkatan. Seluruh produk perikanan yang dihasilkan disebut telah terserap 100 persen oleh pihak offtaker dan dimanfaatkan untuk kebutuhan ekspor.
Keberhasilan uji coba ini menjadi salah satu dasar pemerintah memperluas pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih. Hingga 2026, pemerintah telah membangun 100 titik KNMP yang mulai menjalani uji coba operasional.
Sementara itu, pada 2027, Kementerian Kelautan dan Perikanan merencanakan pengembangan KNMP di 1.000 titik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Program ini juga menjadi bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengembangkan sedikitnya 5.000 titik desa nelayan dari sekitar 12.000 desa pesisir.
Dari jumlah tersebut, terdapat 2.910 desa yang merupakan desa dengan 100 persen penduduk berprofesi sebagai nelayan. Desa-desa tersebut tidak hanya berada di pesisir selatan dan utara Jawa, termasuk Jawa Timur, tetapi juga di pulau-pulau terluar seperti Madura dan pulau-pulau lainnya.
Melalui pengembangan KNMP, pemerintah berharap ekosistem ekonomi masyarakat pesisir semakin kuat, mulai dari produksi perikanan, pengolahan hasil tangkapan, logistik, hingga pemasaran.
Reporter: Guntur Yudinata
Editor: Yasin Al Raviri
