PASURUAN (Lenteratv) – Sebanyak empat pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Kendang Dukuh, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, kini resmi bertransformasi menuju era digital setelah mengikuti program pendampingan intensif yang digagas oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 115 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA). Program bertajuk UMKM Go Digital, dilaksanakan dalam tiga pertemuan terstruktur yang berlangsung pada tanggal 6, 8, dan 14 Juli 2026, dengan fokus utama pada pendampingan pembuatan sistem pembayaran berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) melalui aplikasi GoPay dan GoPay Merchant. Empat UMKM yang menjadi peserta dalam program ini terdiri dari beragam jenis usaha, yakni satu warung kopi dan makanan, satu penjual nasi goreng, satu usaha susu kedelai (SULE), dan satu usaha jahit. Keempat pelaku usaha ini dipilih berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan tim KKN 115, dengan mempertimbangkan potensi pengembangan usaha dan kesiapan mereka dalam mengadopsi teknologi digital. Program ini merupakan bagian dari upaya nyata mahasiswa KKN 115 UINSA dalam mendorong percepatan digitalisasi usaha mikro di pedesaan sekaligus menjawab tantangan ekonomi modern yang semakin mengarah pada transaksi non-tunai.
Program pendampingan ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya adopsi teknologi pembayaran digital di kalangan pelaku UMKM di Desa Kendang Dukuh. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh tim KKN 115, sebagian besar pelaku usaha masih mengandalkan sistem pembayaran tunai yang dinilai kurang efisien dan rawan akan kesalahan pencatatan keuangan.
“Saya melihat banyak pelaku UMKM yang belum memanfaatkan QRIS karena kurangnya informasi. Melalui pendampingan ini, kami berharap pelaku usaha dapat lebih percaya diri menggunakan sistem pembayaran digital,” ungkap salah satu tim KKN 115. Program ini juga sejalan dengan visi pemerintah dalam mendorong inklusi keuangan dan transformasi digital di sektor usaha mikro sebagai tulang punggung perekonomian nasional.
Pada pertemuan pertama yang digelar pada tanggal 6 Juli 2026, tim KKN 115 memulai kegiatan dengan melakukan observasi data dan sosialisasi secara dor to dor kepada empat pelaku UMKM yang berminat untuk dibantu dalam proses pembuatan QRIS. Tahap awal ini diawali dengan pendataan menyeluruh mengenai profil usaha para peserta yang terdiri dari satu warung kopi dan makanan, satu penjual nasi goreng, satu usaha susu kedelai (SULE), dan satu usaha jahit. Tim KKN 115 menggali informasi mencakup jenis produk yang dijual, omzet harian, segmentasi pelanggan, serta kendala-kendala yang selama ini dihadapi dalam pengelolaan usaha.
Setelah proses pendataan selesai, tim KKN 115 kemudian memberikan sosialisasi mendalam mengenai pentingnya adopsi sistem pembayaran digital dalam meningkatkan daya saing usaha di era modern. Para UMKM diberikan pemahaman komprehensif tentang bagaimana QRIS dapat mempermudah proses transaksi, memperluas jangkauan pelanggan, meningkatkan efisiensi pencatatan keuangan, serta mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh transaksi tunai seperti kehilangan uang atau kesalahan perhitungan. Sosialisasi ini berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang memungkinkan para pelaku usaha untuk menyampaikan keraguan dan kekhawatiran mereka terkait penggunaan teknologi digital.
Memasuki pertemuan kedua pada tanggal 8 Juli 2026, suasana semakin hangat dan penuh antusiasme ketika tim KKN 115 menghadirkan sesi demo praktik pembuatan QRIS melalui aplikasi GoPay dan GoPay Merchant. Pada tahap ini, para mahasiswa tidak hanya memberikan teori semata, tetapi secara langsung mendampingi empat pelaku UMKM dalam proses registrasi dan aktivasi akun merchant. Setiap peserta didampingi secara personal oleh mahasiswa yang bertugas memastikan seluruh proses berjalan lancar mulai dari pengunduhan aplikasi, pengisian data diri dan data usaha, verifikasi nomor telepon, hingga aktivasi fitur QRIS pada akun GoPay Merchant masing-masing.
Pendampingan personal ini dilakukan karena tim KKN 115 menyadari bahwa sebagian besar pelaku UMKM di Kendang Dukuh masih tergolong awam terhadap teknologi dan membutuhkan bimbingan intensif agar tidak mengalami kendala teknis di kemudian hari. Selama sesi praktik berlangsung, para mahasiswa juga memberikan tips dan trik dalam mengoptimalkan penggunaan fitur-fitur yang tersedia di aplikasi GoPay Merchant, seperti cara membaca grafik penjualan harian, cara melihat riwayat transaksi, serta cara mengelola stok barang secara digital. “Digitalisasi bukan soal besar atau kecilnya usaha. Ini soal kesiapan untuk belajar dan berkembang. UMKM bisa mulai dari hal sederhana seperti mempromosikan produk lewat WhatsApp dan Instagram,” ujar anggota tim KKN 115 dalam sesi pendampingan.
Sesi demo praktik ini berlangsung sedikit cukup lama mengingat antusiasme peserta yang tinggi dan banyaknya pertanyaan teknis yang diajukan. Namun demikian, tim KKN 115 dengan sabar melayani setiap pertanyaan dan memastikan bahwa pada akhir pertemuan kedua, seluruh UMKM telah berhasil memiliki akun GoPay Merchant yang aktif dan siap digunakan untuk menerima pembayaran digital dari pelanggan. Beberapa UMKM bahkan langsung mencoba melakukan transaksi perdananya dengan bantuan mahasiswa sebagai pembeli simulasi, dan seluruh transaksi berjalan dengan lancar tanpa kendala berarti.
Puncak dari rangkaian kegiatan UMKM Go Digital ini berlangsung pada pertemuan ketiga tanggal 14 Juli 2026, di mana tim KKN 115 melakukan penyerahan stan akrilik yang dilengkapi dengan QR Code QRIS kepada empat peserta program. Penyerahan stan akrilik ini menjadi momen yang sangat dinantikan oleh para pelaku UMKM karena mereka akhirnya memiliki media fisik yang dapat dipajang di tempat usaha masing-masing untuk memudahkan pelanggan dalam melakukan transaksi non-tunai.
Stan akrilik yang diberikan didesain dengan ukuran yang proporsional dan dilengkapi dengan tulisan yang jelas serta QR Code yang telah teruji kevalidannya. Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh koordinator tim KKN 115 kepada perwakilan peserta, kemudian dilanjutkan dengan pembagian satu per satu kepada seluruh pelaku UMKM yang telah mengikuti program dari awal hingga akhir.
Dalam sambutannya pada acara penyerahan tersebut, tim KKN 115 menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada empat pelaku UMKM yang telah menunjukkan komitmen luar biasa dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Beliau juga menekankan bahwa penyerahan stan akrilik ini bukanlah akhir dari program pendampingan, melainkan awal dari perjalanan baru para pelaku UMKM dalam mengelola usaha secara lebih modern dan profesional. Para UMKM juga diingatkan untuk terus mengembangkan kemampuan digital mereka dan tidak ragu untuk berkonsultasi dengan tim KKN 115 apabila menghadapi kendala di kemudian hari.
Profil Empat UMKM Peserta Program
Keempat pelaku UMKM yang menjadi peserta program “UMKM Go Digital” ini memiliki karakteristik usaha yang beragam, namun sama-sama memiliki potensi untuk berkembang dengan memanfaatkan teknologi digital. Berikut profil singkat mereka:
- Warung Kopi dan Makanan “Bu Nurul” – Usaha warung makanan ini sudah berjalan lebih dari 8 tahun dan menjadi salah satu langganan warga sekitar. Dengan adanya QRIS, Bu Nurul kini dapat melayani pembayaran digital tanpa harus repot menyediakan uang kembalian.
- Penjual Nasi Goreng “Pak Shodikin” – Usaha nasi goreng keliling ini kini mulai merambah ke sistem pemesanan online. Dengan adanya QRIS, Pak Shodikin dapat menerima pembayaran digital dari pelanggan yang memesan melalui aplikasi pesan-antar.
- Usaha Susu Kedelai “Sule” (Pak Ghozali) – Usaha minuman sehat berbahan dasar susu kedelai ini memiliki cita rasa khas dan digemari oleh warga setempat. Pak Ghozali sangat antusias dengan adanya QRIS karena dapat memudahkan transaksi dengan pelanggan, terutama anak muda yang lebih sering bertransaksi secara non-tunai.
- Penjahit “Bu Nanda”- Satu-satunya usaha jasa yang menjadi peserta program ini. Bu Nanda melayani jahit pakaian dan seragam. Dengan QRIS, Bu Nanda dapat menerima pembayaran dari pelanggan yang tidak membawa uang tunai.
Melalui program ini, mahasiswa KKN 115 UINSA berharap keempat pelaku UMKM di Desa Kendang Dukuh semakin adaptif terhadap teknologi digital, memiliki legalitas usaha yang memadai, serta mampu memperkuat branding produk dan memperluas jangkauan pemasaran. Dengan adanya QRIS, transaksi menjadi lebih praktis, aman, dan cepat, serta mampu meningkatkan kepercayaan konsumen. Selain itu, penggunaan QRIS juga dinilai dapat membantu pelaku usaha dalam mencatat transaksi secara lebih tertib dan transparan.
Dengan pendampingan yang berkelanjutan, para pelaku usaha mikro diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkan digitalisasi secara mandiri dan berkelanjutan dalam kegiatan usaha sehari-hari. Ke depan, diharapkan program-program serupa dapat terus digalakkan baik oleh mahasiswa KKN maupun oleh berbagai pihak lain yang peduli terhadap pengembangan UMKM di pedesaan, sehingga cita-cita mewujudkan inklusi keuangan dan pemerataan akses terhadap teknologi digital dapat segera terwujud di seluruh pelosok tanah air.
