SURABAYA (Lenteratv) – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera dan Kalimantan yang tak kunjung padam selama tiga bulan terakhir menjadi sorotan serius. Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mendesak pemerintah untuk tidak alergi terhadap tawaran bantuan dari negara sahabat.
Hal itu disampaikan Lia saat menjawab pertanyaan kritis mahasiswa dalam acara DPD RI Goes to School di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jumat (17/10/2026).
Lia menilai, penanganan Karhutla yang berlarut-larut menunjukkan adanya keterbatasan yang perlu dievaluasi. Jika upaya modifikasi cuaca sebelumnya berhasil meredam kebakaran di beberapa daerah, kali ini upaya tersebut belum mampu menuntaskan api di Sumatera dan Kalimantan.
“Saya selaras dengan apa yang disampaikan Bapak Ketua DPD Pak Sultan tentang bantuan asing. Karena memang pasti ada beberapa hal penyelesaian, yaitu kita mungkin ada keterbatasan untuk bisa menyelesaikan,” ujar Lia.
Menurut senator yang meraih suara tertinggi DPD RI Jatim tersebut, tawaran bantuan dari Malaysia dan negara tetangga lainnya bisa menjadi solusi alternatif. Bantuan tersebut bisa berupa dukungan teknologi dan kemampuan pemadaman yang lebih canggih untuk mempercepat penanganan.
“Berarti mungkin memang ada kecanggihan dari pihak luar, dari negara luar yang mana itu kemudian bisa membantu kita,” katanya.
Namun demikian, Lia menegaskan bahwa penerimaan bantuan asing harus tetap dalam koridor yang jelas. Silogismenya tegas: bantuan boleh diterima, tetapi kedaulatan tetap dijaga.
“Tapi yang jelas itu semuanya, apapun bantuan kita tetap harus memiliki regulasi, kita harus memiliki pengawasan. Jadi apapun bantuan, kita juga harus punya batas,” tegasnya.
Ia menambahkan, kerja sama hanya akan dilakukan dengan negara sahabat yang telah menjalin hubungan baik dengan Indonesia sehingga kepentingan nasional tetap menjadi prioritas utama.
Sebelumnya, Ketua DPD RI Sultan B. Najamudin memang telah menyatakan keterbukaannya terhadap bantuan internasional untuk Karhutla. Lia menilai langkah ini bukan soal gengsi, melainkan soal kecepatan menyelamatkan warga dan lingkungan dari bencana asap berkepanjangan.
Reporter: Guntur Yudinata
Editor: Yasin Al Raviri
