SURABAYA (LenteraTV) – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memberikan respons menohok terkait kasus tewasnya bocah penyandang Down Syndrome, ZAA (10), yang diduga dianiaya teman sebayanya yang masih berusia di bawah 12 tahun.
Eri tidak hanya berbicara soal proses hukum yang kini ditangani Polrestabes Surabaya, tetapi juga menyoroti akar masalah yang menurutnya lebih dalam, yakni gagalnya peran keluarga.
“Yang terlibat dalam kekerasan anak Down Syndrome, Pak, kan didampingi sama DP3A… laporan sudah kami berikan kepada Polrestabes melalui Dinas Sosial,” ujar Eri usai pelantikan Baznas Kota Surabaya.
Eri menjelaskan, untuk pelaku yang berusia di bawah 12 tahun memang ada tahapan khusus, yakni pemeriksaan kejiwaan terlebih dahulu sebelum tindakan lanjutan.
Namun, hal yang paling disoroti Eri adalah minimnya komunikasi antara orang tua dan anak.
“Saya berharap betul ini kembali lagi kepada orang tua, cara mendidiknya… wong tuo juga akan mungkin tidak pernah berkomunikasi, jarang dengan anak-anaknya… kalau ingin membangun negara, membangun kota ini dimulai dari yang terkecil, adalah keluarga,” tegas Eri.
Dengan gaya ceplas-ceplos khas Suroboyoan, Eri bahkan menyentil fenomena yang sering terjadi di Surabaya.
“Ayo, anake ono iku mau anak sing dianggap enggak tahu macam-macam, ternyata melok aliran radikal, wong tuane enggak percoyo, anake ternyata ono narkoba, kan gara-gara ya karena kedekatan orang tua dengan anak juga mulai terbatas,” ungkapnya.
Eri berharap tragedi di teras rumah yang merenggut nyawa bocah penyandang disabilitas ini menjadi pembelajaran bagi seluruh orang tua di Surabaya.
“Semoga dengan kejadian ini, orang tua lebih mendekatkan lagi kepada anaknya dan saya berharap warga Kota Surabaya, mulailah kita tata anak antara anak dan orang tua,” pungkasnya.
Reporter: Guntur Yudinata
Editor: Yasin Al Raviri
