SURABAYA (LenteraTV) – Masih tingginya insiden kebakaran kapal membuat Dirjen Perhubungan Laut memberikan peringatan keras terkait masuknya barang berbahaya ke dalam kapal penumpang. Tahun ini, Tanjung Perak Surabaya dipilih menjadi pilot project penerapan X-Ray untuk mendeteksi barang berbahaya yang dibawa penumpang sebelum naik kapal.
Peringatan keras itu disampaikan Plt. Dirjen Perhubungan Laut (Hubla) Lollan Andy Sutomo Panjaitan saat kampanye keselamatan di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara, Tanjung Perak, Surabaya.
Meski kampanye keselamatan rutin digelar setiap tahun, data kecelakaan dalam 15 tahun terakhir menunjukkan hal berbeda. Tercatat, pada 2011 KM Kirana IX terbakar dengan delapan korban tewas, pada 2017 KM Mutiara Sentosa 1 terbakar dan menewaskan lima orang di Masalembo, pada 2022 KM Mutiara Timur tenggelam di Selat Bali akibat kebocoran bahan kimia dari kendaraan, hingga pada 2026 KM Mutiara Sentosa 2 terbakar di perairan utara Madura.
Plt. Dirjen Hubla Lollan Andy Sutomo menjelaskan, insiden kapal terbakar bisa terjadi kapan saja karena berbagai faktor, tidak hanya cuaca dan faktor teknis mesin.
Dari hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), penyebab utama bukan mesin, melainkan barang bawaan penumpang.
Barang berbahaya, bahan kimia, atau bahan mudah terbakar dibawa masuk ke car deck tanpa dilaporkan kepada operator kapal sehingga tidak tercantum dalam manifes keamanan. Hal inilah yang menjadi bom waktu di tengah laut.
“Dari investigasi yang ada juga bisa ditemukan adanya barang berbahaya yang dibawa yang tidak dilaporkan kepada operator. Masih saja, oleh karena itu ini juga menjadi PR besar kami bagaimana kemudian kita secara bersama-sama teman-teman tadi yang sudah melakukan komitmen bersama untuk memastikan bahwa barang yang dibawa di kapal itu aman,” ujar Lollan Andy.
Untuk memutus rantai tersebut, Tanjung Perak Surabaya dipilih menjadi pilot project penerapan X-Ray untuk mendeteksi barang berbahaya yang dibawa penumpang sebelum naik kapal.
Jika sistem ini dinilai berhasil, penerapannya akan diperluas ke pelabuhan-pelabuhan besar lainnya di Indonesia.
“Iya untuk pilot project memang ini bertahap dan di Tanjung Perak ini salah satu awal ya kita lakukan. Dengan pilot project kemudian kalau itu sudah kita anggap berhasil maka kita terapkan ke pelabuhan-pelabuhan utama baik itu di Tanjung Priok kemudian di Nusantara Makassar,” tegasnya.
Dengan penerapan X-Ray ini, Kemenhub berharap tidak ada lagi kejadian truk yang membawa bahan kimia mengalami kebocoran di tengah laut hingga membahayakan seluruh kapal.
Reporter: Guntur Yudinata
Editor: Yasin Al Raviri
