SURABAY (Lenteratv) – Meski masih dianggap sebagai limbah, minyak jelantah melalui kolaborasi sebuah hotel dan perusahaan startup teknologi hijau kini dapat disulap menjadi rupiah. Selain menjadi rupiah, limbah minyak jelantah juga telah dimanfaatkan dalam ekonomi sirkular, yakni mengubahnya menjadi energi terbarukan melalui mesin Reverse Vending Machine.
Pemasangan Reverse Vending Machine oleh sebuah perusahaan startup lokal Indonesia ini memang memaksimalkan peluang dari dua sektor sekaligus.
Pertama adalah pengembangan sektor energi terbarukan yang ramah lingkungan dan kedua adalah sektor produksi bernilai ekonomi sirkular.
Pemanfaatan tersebut terfokus pada penampungan limbah minyak jelantah yang beredar luas di masyarakat.
Selain menggandeng beragam instansi, startup berbasis energi terbarukan ini juga menggandeng hotel untuk mengampanyekan pembuangan limbah minyak jelantah agar tidak sembarangan dan bisa dilakukan di setiap gerai yang menyediakan mesin ATM minyak jelantah.
Mesin tersebut secara khusus dibuat untuk menampung 1 ton minyak jelantah, yang nantinya didistribusikan ke kilang-kilang yang telah disediakan. Seluruh limbah tersebut nantinya akan diekspor ke luar negeri untuk berbagai kebutuhan energi terbarukan, salah satunya biodiesel atau B-50.
Saat ini, startup tersebut sudah menggandeng setidaknya 100 hotel di Indonesia, dengan kemampuan serap penampungan 60-100 ton per bulan. Salah satu Key Account Manager mengungkapkan kolaborasinya dengan hotel untuk meningkatkan jaringan sosial individu dan masyarakat agar lebih sadar melihat peluang limbah minyak jelantah. Terutama bagi ibu rumah tangga yang bisa membawa limbah minyak jelantah dari rumah saat menemukan mesin U Collect Box. Setiap satu liter limbah minyak jelantah yang mereka bawa, mereka langsung mendapat Rp4.000. Hal ini sekaligus mendorong agar ibu rumah tangga tidak lagi membuang minyak jelantah sebagai sampah biasa yang berakibat pada pencemaran.
“Kalau hotel, resto, cafe itu kan mereka sudah lebih aware ya soal potensi dari minyak jelantah ini, mereka sudah tahu kalau minyak jelantah itu bisa dijual. Tapi setelah kita penelitian ke community, banyak justru dari ibu-ibu itu yang minyak jelantahnya dibuang saja. Dianggap sebagai sampah biasa. Ada juga yang dibuang ke got. Itu kan bikin mampet. Sedangkan waste management di Indonesia itu masih tercampur, bisa bikin polusi ke sungai. Sebenarnya tujuan hadirnya Noovoleum ini untuk memberikan awareness, edukasi dan juga memfasilitasi pengumpulan. Kita tuh sustainability fokus banget, bukan yang money driven company gitu. Jadi kita dalam memilih partner itu yang punya fokusnya sama, yang sustain juga,” ujar Tharesia, Key Account Manager Ucollect.
Melihat potensi dari individu yang jumlahnya jauh lebih besar dari industri, U Collect menghadirkan inovasi mesin pengumpul minyak jelantah dengan konsep reverse vending machine.
Sementara itu, untuk skala satu hotel, Artotel Grand Prima Surabaya sendiri mencatat konsumsi minyak sebanyak 40 sampai 100 liter per bulan. Jumlah ini menjadikan sektor perhotelan sebagai salah satu penyumbang minyak jelantah terbesar sekaligus memiliki tanggung jawab besar dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
“Kalau kita ngelihat jumlah penduduk kan memang individu lebih banyak. Jadi sebenarnya potensi minyak jelantah dari individu tuh lebih banyak. Maka dari itu kita membuat mesin ini tujuannya untuk memfasilitasi individual dalam pengumpulan minyak jelantah. Jadi kita bikin sesimpel mungkin kayak reverse vending machine saja. Kita tuang dulu minyaknya, nanti baru dibayarkan.
Dan juga kita tahu kalau misalkan kita aware dengan lingkungan yang mana salah satunya lingkungan itu kan banyak dan program kita di Art of Goodness itu salah satunya menjaga lingkungan agar lebih baik. Nah, kita salah satunya masuk dari program U Collect karena dari program U Collect ini menawarkan untuk minyak-minyak ini nanti akan difungsikan atau dibuat dengan energi terbarukan. Kita juga menggunakan minyak setiap harinya, jadi kita juga menjadi salah satu penyumbang terbanyak. Selain dari kita, masyarakat umum bisa untuk menyumbang. Jadi program ini memang kita khususkan untuk orang lebih mengenal adanya box itu ada di Artotel Grand Prima sendiri,” ujar Indah, Marcom Artotel Grand Prima Surabaya.
U Collect menegaskan bahwa mereka tidak menyasar industri besar karena fokusnya bukan money driven, melainkan sustainability, edukasi, dan fasilitasi. Industri besar sudah memiliki vendor sendiri dan berorientasi pada harga tertinggi. Oleh karena itu, mereka memilih bermitra dengan hotel yang memiliki visi lingkungan yang sama, yaitu Artotel Grand Prima Surabaya yang telah tersertifikasi GSTC dan memiliki program Art of Goodness.
Dengan ditempatkannya box U Collect di hotel, diharapkan masyarakat semakin mudah mengakses fasilitas pengumpulan minyak jelantah, sekaligus mendorong terwujudnya ekonomi sirkular dari limbah menjadi energi terbarukan.
Reporter: Guntur Yudinata
Editor: Yasin Al Raviri
