SURABAYA (Lenteratv) – Pelabuhan Tanjung Perak terus memperkuat komitmen penerapan green port melalui penggunaan bahan bakar ramah lingkungan pada armada pengangkut barang atau kontainer. Secara bertahap, sebanyak delapan kapal peti kemas modern berbahan bakar Liquefied Natural Gas (LNG) akan dioperasikan untuk melayani rute pelayaran dari pelabuhan setempat. Dua kapal di antaranya dijadwalkan mulai beroperasi di Pelabuhan Tanjung Perak pada bulan depan.
Penggunaan energi bersih tersebut dikemas dalam bentuk iso tank khusus guna menggantikan konsumsi bahan bakar fosil konvensional seperti Marine Fuel Oil (MFO) maupun solar. Kepala Bidang Perkapalan dan Kelautan KSOP Utama Tanjung Perak, Mustamim, menjelaskan bahwa langkah konversi energi tersebut merupakan bentuk konkret dukungan terhadap program prioritas pemerintah pusat.
“Keunggulan bahan bakar LNG ini, selain lebih murah, juga sangat ramah lingkungan karena dapat menekan emisi gas buang dan tidak menimbulkan polusi udara,” ujar Mustamim, Senin (27/7).
Dia menegaskan pengoperasian kapal ramah lingkungan tersebut secara langsung akan menurunkan intensitas emisi karbon di area perairan Surabaya.
Proses transisi bahan bakar pada kapal peti kemas yang dibangun di luar negeri ini akan direalisasikan secara bertahap mulai bulan depan. Pada tahap awal yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang, terdapat dua unit kapal kontainer LNG yang siap beroperasi secara resmi di Pelabuhan Tanjung Perak.
Perubahan mendasar pada kapal pengangkut logistik ini hanya berfokus pada sistem konversi bahan bakarnya. Konversi energi tersebut dianalogikan serupa dengan proses konversi bahan bakar minyak ke gas pada kendaraan darat yang difasilitasi alat konverter. Penggunaan bahan bakar terbarukan sekaligus memicu potensi perluasan teknologi serupa, khususnya pada jenis armada penyeberangan atau kapal penumpang di masa mendatang.
Reporter: Guntur Yudinata/Editor: Yasin
