SURABAYA (LenteraTV) – Seorang remaja berusia 16 tahun tewas mengenaskan setelah menjadi pahlawan bagi keluarganya dalam kebakaran rumah di Jalan Sidotopo Kidul 30-A, Kelurahan Simokerto, Kecamatan Simokerto, Surabaya, Minggu (25/10/2026) dini hari.
Korban ditemukan hanya lima sentimeter dari pintu keluar di lantai dua, setelah berhasil menyelamatkan ibu, ayah, dan keempat adiknya dari amukan si jago merah.
Korban diketahui bernama Ibni Rafip Zaky (16). Ia merupakan anak pertama dari lima bersaudara.
Kebakaran hebat melanda sebuah rumah dua lantai berukuran 5 x 6 meter di Jalan Sidotopo Kidul, Minggu sekitar pukul 03.15 WIB.
Rumah tersebut difungsikan sebagai gudang besi tua dan rongsokan di lantai satu, sementara lantai dua digunakan sebagai hunian keluarga.
Kepala Bidang Pemadam Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya, Muhammad Rokim, mengatakan api pertama kali terlihat muncul dari area lantai satu.
Karena banyaknya material yang mudah terbakar, api dengan cepat menjalar dan menghanguskan seluruh bangunan.
Warga yang melihat kepulan asap langsung melapor ke Command Center 112. Laporan diterima pukul 03.15 WIB dari pelapor bernama Rizal.
“Terima berita 03.15 WIB, berangkat 03.16 WIB, tiba di TKK 03.19 WIB. Unit Tempur Pos Pegirian tiba dan langsung melakukan pemadaman,” kata Rokim.
Guna menjinakkan api, DPKP Kota Surabaya mengerahkan sembilan unit armada, terdiri dari satu Unit Tempur Pos Pegirian, dua Unit Tempur Rayon 1 Pasar Turi, dua Unit Tempur Rayon 2 Tambakrejo, dan empat Unit Tim Rescue.
Api pokok berhasil padam sekitar pukul 03.30 WIB dan pembasahan selesai dinyatakan kondusif pukul 04.10 WIB.
Peristiwa ini menyisakan kisah heroik. Saat semua penghuni terlelap, Ibni menjadi orang pertama yang terbangun karena ada anak kecil yang lewat dan melihat api dari bawah.
Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, Ibni membangunkan sang ibu, Hj. Firda, ayahnya, H. Moehammad Noer, serta adik-adiknya yang masih tertidur di lantai dua.
Demi menyelamatkan adik-adiknya, Ibni dan sang ayah nekat melempar dan melompatkan adik-adiknya dari balkon lantai dua.
Semua selamat, tetapi Ibni justru tertinggal di dalam dan terjebak pekatnya asap.
“Untung ada anak lewat sini. Coba enggak ada anak yang lewat. Soalnya tidur semua di atas, jadi kan enggak tahu gitu,” ungkap Kholifah (40), tante korban.
“Dia tuh bangun sudah bangun duluan. Waktunya masih tidur semua. Adiknya dibangunin semua. Terus dia yang tertinggal di lantai 2. Lompat semua, adiknya dilempar dari atas,” lanjutnya.
Petugas menemukan Ibni sudah tak bernyawa tepat di depan pintu teras lantai dua, hanya berjarak lima sentimeter dari keselamatan.
“Pokoknya depan pintu lima senti ya. Badannya enggak kena kebakaran, cuma mungkin pembuluh darahnya pecah. Hidung sama telinganya keluar darah, mungkin karena kebanyakan hirup asap,” tutur Kholifah.
Hasil pemeriksaan awal menyebutkan tubuh korban bersih dari luka bakar, tetapi mengalami pendarahan pada hidung dan telinga akibat menghirup karbon monoksida dalam jumlah banyak.
Bagi keluarga, Ibni bukan remaja biasa. Ia dikenal pendiam, jarang bepergian jauh, dan sangat menyayangi adik-adiknya.
Remaja yang sempat mengenyam pendidikan di pesantren ini memilih berhenti sekolah untuk membantu ayahnya mengelas di gudang besi tua tersebut.
Sehari sebelum kejadian, ia bahkan sempat membelikan martabak dalam jumlah banyak untuk dimakan bersama adik-adiknya di rumah sang tante.
“Orangnya pendiam, senyum gitu anaknya. Suka bantu abahnya di gudang, ngelas. Anaknya pintar, baik sama orang,” kenang Kholifah.
Kini, jasad Ibni telah dimakamkan di kompleks TPU Wonokusumo, Surabaya, usai salat Zuhur pada Minggu siang. Keluarga menyebut jenazah remaja tersebut mengeluarkan harum seperti bunga melati saat dibawa ke peristirahatan terakhir.
Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan Polsek Simokerto.
Reporter: Guntur Yudinata
Editor: Yasin Al Raviri
