SURABAYA (Lenteratv) – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, melarang keras sekolah negeri SD dan SMP menjual seragam dengan harga bervariasi dan mahal. Larangan ini muncul setelah ditemukan seragam sekolah yang dijual lebih mahal dari harga pasaran.
Eri mengungkapkan, seragam batik di salah satu sekolah negeri dijual seharga Rp115 ribu, padahal di luar sekolah harganya hanya Rp80 ribu hingga paling mahal Rp90 ribu.
“Kenapa seragam batiknya sekolah negeri SMP dan SD negeri kok berbeda-beda. Karena kualitas kainnya, Pak, ya loro kabeh (sakit semua),” kata Eri di Balai Kota Surabaya.
Menurut Eri, perbedaan kualitas kain justru menciptakan kesenjangan sosial antarsiswa. Siswa dari keluarga tidak mampu akan membeli kualitas yang lebih rendah, sehingga tidak ada persamaan.
“Ini negara ini harus sama, berdiri sama tegak, duduk sama rendah. Maka saya berharapnya seragamnya sama semua, tapi tulisannya beda-beda, ada badge-nya, terus ada tulisannya, capnya berbeda-beda dan tidak ada lagi seragam yang mahal,” tegasnya.
Eri meminta agar penyeragaman dilakukan secara terpusat. Jika sekolah ingin menyediakan seragam batik khas Surabaya, maka harus berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan dan dijual melalui toko-toko resmi di Surabaya dengan harga murah dan seragam.
“Anak-anak harus dibebaskan untuk seragam yang putih biru, ya, atau merah putih, putih merah itu sama. Tapi kalau yang batik kan harus ada gambar Surabaya loh. Kudu murah,” pungkasnya.
Reporter: Guntur Yudinata
Editor: Yasin Al Raviri
