SURABAYA (LenteraTV) – Indonesia masih darurat narkoba. Peredarannya tak lagi hanya terjadi di kota besar, tetapi sudah masuk hingga ke kampung dan lingkungan masjid. Dari Surabaya, muncul model baru perang melawan narkoba yang tak lagi hanya mengandalkan penangkapan, tetapi juga menggunakan masjid, ekonomi, dan pemuda sebagai senjata utama.
Peredaran narkoba di Surabaya menjadi cermin persoalan nasional. Kota dengan ribuan masjid dan musala ini ternyata tak luput dari peredaran minuman keras (miras) dan narkoba.
Fakta ini disampaikan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam Seminar dan Deklarasi Antinarkoba bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surabaya di RS Kemenkes.
Pernyataan Eri ini bukan hanya ditujukan untuk Surabaya. Di seluruh Indonesia, masjid berdiri ribuan, tetapi peredaran narkoba justru makin masif di kalangan generasi muda.
“Masjid dan musala berdiri banyak di Surabaya, tetapi miras dan narkoba juga masih ada. Apalah arti berdirinya masjid kalau kita tidak mampu menghilangkan itu semua? Masjid itu bukan sekadar dibangun, tapi dimakmurkan,” tegas Eri.
Karena itu, Surabaya menawarkan model baru yang bisa direplikasi secara nasional.
Bukan hanya dirazia, tetapi juga dihidupkan ekonominya. Seperti di Jalan Kunti, Pemkot memasukkan program intervensi UMKM dan penguatan ekonomi lokal agar anak muda memiliki penghasilan halal dan tak lagi menjadi kurir atau pemakai.
Pemkot juga telah menutup sejumlah tempat penjualan miras tak berizin karena miras dinilai sebagai pintu masuk menuju penyalahgunaan narkotika.
Remaja masjid dan Karang Taruna tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi diajak berkolaborasi dengan BNN Kota Surabaya dan Polrestabes Surabaya untuk melaporkan peredaran narkoba.
“Jangan pernah bermimpi narkoba dan miras hilang kalau kita sendiri diam. Jika warga takut bertindak langsung, segera laporkan ke Pemkot, Polrestabes, atau BNN. Kita punya Satgas Anti Premanisme untuk menindaklanjuti,” ujar Eri.
MUI Kota Surabaya menyiapkan terobosan yang paling menarik. Seluruh khatib dan imam tarawih diwajibkan menyisipkan materi tentang bahaya narkoba dalam kultum selama Ramadan.
Jika model ini diterapkan di seluruh Indonesia, setiap malam Ramadan, jutaan jemaah di ribuan masjid akan mendapatkan edukasi antinarkoba secara serentak dan sistematis.
“Ramadan adalah momen tertinggi untuk mencegah kemungkaran. Karena itu, para penceramah dan imam tarawih nanti tidak hanya menyampaikan fadhilah Ramadan, tetapi wajib menyisipkan materi pencegahan narkoba. Dengan begitu, ratusan ribu jemaah di seluruh masjid dan musala Surabaya bisa mendapatkan edukasi secara serentak dan sistematis,” jelas Ketua Umum MUI Kota Surabaya, KH Muhaimin Ali.
Muhaimin menambahkan, sosialisasi juga akan dibagi berdasarkan wilayah, yakni Surabaya Barat, Timur, Selatan, dan Utara. Masing-masing wilayah mencakup lima hingga tujuh kecamatan agar pesan edukasi meresap hingga ke tingkat kelurahan.
Dengan model ini, Surabaya tak lagi sekadar membuat deklarasi lokal, tetapi juga menawarkan formula nasional: perang melawan narkoba harus dimulai dari masjid, ekonomi, dan pemuda.
Jika berhasil di Surabaya, model ini siap direplikasi ke seluruh Indonesia.
Reporter: Guntur Yudinata
Editor: Yasin Al Raviri
