SURABAYA (LenteraTV) – Cuaca panas ekstrem di Surabaya memakan korban. Bukan manusia, melainkan puluhan ayam potong yang mati kepanasan di atas truk. BMKG Perak menjelaskan kondisi ini adalah fenomena pancaroba, saat matahari tepat berada di atas Jawa Timur.
Drama terjadi di markas Damkar Pasar Turi, Surabaya. Sebuah truk pengangkut 4,5 ton ayam potong dari Magelang menuju Madura berhenti darurat. Bukan karena mogok, melainkan puluhan ayam di dalamnya mati kepanasan akibat cuaca panas selama perjalanan.
Sopir yang kehabisan cara kemudian meminta bantuan petugas Damkar untuk menyiram ayam-ayam yang masih hidup agar tidak terus mati.
“Truk ayam kita kasih bantuan disemprot karena ayam ini banyak yang mati karena cuaca ekstrem, kasihan ayamnya mati, mungkin sekitar 20 ayam mati dalam perjalanan dari Magelang tujuannya ke Pasar Pabean, tapi kalau dari Mas Supri ke Sumenep, mereka baru pertama kali ke tempat ini,” ujar Kabid Pemadam Kebakaran DPKP Kota Surabaya, M. Rokhim.
Peristiwa ini menjadi gambaran betapa panasnya Surabaya saat ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tanjung Perak Surabaya menjelaskan, kondisi ini adalah fenomena pancaroba yang terjadi setiap Oktober hingga awal November.
Pada masa ini, angin timur berubah menjadi angin barat, dan matahari bergeser dari utara ke selatan sehingga tepat berada di atas Jawa Timur. Dampaknya, suhu terasa lebih panas dari biasanya, meski data BMKG menyebut suhu masih dalam batas normal.
“Pancaroba adalah salah satunya ditandai dengan perubahan arah angin yang awalnya dominan dari timur kemudian dia akan beralih secara berangsur menjadi arah barat di sinilah pancaroba ini terjadi sekitar bulan-bulan Oktober hingga awal November, untuk suhu sendiri di wilayah tropis seperti Indonesia khususnya di Jawa Timur tidak begitu signifikan jadi masih cukup homogen tapi memang ketika matahari sudah mau masuk wilayah selatan khatulistiwa atau sekitar pertengahan Oktober kita akan merasakan sensasi tubuh suhu udara agak lebih panas karena matahari tepat berada di atas Jawa Timur,” kata Ady Hermanto, Koordinator Kelompok Seksi Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya.
BMKG memprediksi angin baratan ini akan berlangsung mulai November hingga Februari-Maret mendatang. Dengan kondisi ini, warga diimbau waspada, terutama saat pengiriman hewan ternak, agar memperhatikan sirkulasi udara dan waktu perjalanan.
Reporter: Guntur Yudinata
Edtior: Yasin Al Raviri
