SIDOARJO (Lenteratv) – Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Surabaya mendorong masyarakat nelayan pesisir Sidoarjo menuju modernisasi pesisir. Modernisasi ditekankan pada upaya penggunaan permesinan serta radar navigasi penangkapan ikan secara digital.
Pemberdayaan masyarakat nelayan pesisir Sidoarjo mulai digencarkan tahun ini melalui program Pengabdian Masyarakat Tri Dharma Perguruan Tinggi STTAL Surabaya.
Pemberdayaan teknologi menyasar 300 nelayan Desa Gisik Cemandi, Sedati, Sidoarjo. STTAL Surabaya memberikan pendampingan dan sosialisasi teknologi hasil tangkapan ikan.
Komandan STTAL, Laksamana Muda Ardiansyah, menegaskan kegiatan ini merupakan wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana kampus tidak hanya melakukan eksplorasi di laboratorium, melainkan bergerak ke praktik nyata di tengah masyarakat.
Fokusnya adalah pendampingan penggunaan teknologi modern, mulai dari cara perawatan motor tempel hingga optimalisasi sarana tangkap seperti navigasi. Meski momen ini bersifat simbolis, secara rutin STTAL akan mendampingi masyarakat nelayan agar mampu menggunakan teknologi modern ke depan.
“Pagi hari ini STTAL akan proses pengabdian masyarakat di mana pengabdian masyarakat ini adalah bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, untuk setiap lembaga pendidikan di sini kami berharap bisa mengenalkan langsung kepada masyarakat desa sehingga apa yang menjadi harapan kita menjadi lebih baik dan dari sisi kesejahteraan mereka di mana kita akan melaksanakan empat kegiatan mulai dari kegiatan secara teknologi, yang kedua kesehatan, baksos, dan terakhir penanaman kami di sini ada lima rumpun keilmuan di mana kami ada dosen tentang teknik elektronika, teknik informatika, teknik hidrografi, dan terakhir bagaimana mengelola manajemen industri kita memberikan sesuai dengan kemampuan profesi masing-masing dosen,” ujar Laksamana Muda Ardiansyah, Komandan STTAL Surabaya.
Sinergi ini disambut Lurah Gisik Cemandi, Muhamad Alimin. Desanya selama ini sering menerima bantuan GPS dan fish finder modern dari pemerintah, namun nelayan kesulitan mengoperasikannya karena minim literasi teknologi.
Kehadiran teknokrat STTAL menjadi jembatan. Nelayan diajari cara membaca titik koordinat lintang dan bujur, pemetaan ikan, hingga antisipasi cuaca gelap dan abrasi jalur sungai.
“Ini sangat penting sekali menurut saya karena masyarakat kita perlu edukasi tentang perbaikan mesin kapal apalagi cara pengoperasiannya itu kan sudah mengarah modern sudah ada alat bantuan dari pemerintah berupa GPS dan fish finder sistem itu masyarakat tidak bisa, dengan adanya pelatihan ini sangat membantu sekali kalau sudah bisa mengoperasionalkan bisa meningkatkan hasil tangkapan mereka kalau ada GPS, oh di titik posisi ikan ini di lintang bujur apa itu kan sudah titik koordinatnya sudah ada jadi tidak perlu cari-cari lagi dan untuk pendeteksi ikan yang berada di dalam air selama ini sudah ada bantuan berupa GPS tapi cara pengoperasiannya tidak bisa karena perlu nelayan yang mempunyai SDM yang sangat mumpuni karena itu alat yang begitu canggih dan modern yang selama ini dipergunakan oleh nelayan asing,” kata Muhamad Alimin, Lurah Gisik Cemandi.
Dengan teknologi tepat guna ini, hasil tangkapan diklaim naik hingga 50 persen dibandingkan menggunakan cara tradisional. Ditambah peningkatan keselamatan melaut bagi nelayan, terutama saat cuaca ekstrem. Penggunaan alat modern juga mendukung ekosistem pesisir, terutama kawasan habitat mangrove.
Kolaborasi ini menjadi bukti kampus militer tidak hanya mencetak alutsista, tetapi juga mencetak solusi untuk kesejahteraan pesisir.
Reporter: Guntur Yudinata
Editor: Yasin Al Raviri
