SURABAYA (Lenteratv) – Pemerintah Kota Surabaya kembali menggelar Kite Festival 2026 di kawasan pesisir timur, berkolaborasi dengan sebuah perusahaan properti dan real estate di Surabaya. Festival ini menyedot perhatian publik dengan menghadirkan 100 peserta dari 38 kelompok komunitas layang-layang tingkat nasional maupun mancanegara.
Beragam jenis layang-layang pun mewarnai langit selama dua hari, berhias puluhan layang-layang hias dari 38 komunitas dari berbagai daerah. Selain puluhan layang-layang, ingar bingar warga juga mewarnai suasana.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengapresiasi diadakannya kembali festival ini, yang sempat vakum beberapa waktu. Ia menyebut daya tarik ajang festival makin diperhitungkan di kancah global.
Melihat potensi besar tersebut, Wali Kota Eri berencana menaikkan taraf kejuaraan pada tahun mendatang, baik dari segi kenyamanan venue hingga alokasi total hadiah.
Menurut Wali Kota Eri, nilai kompetisi tahun ini makin bergengsi dengan adanya dukungan dari Konsulat Jenderal India. Eri menerangkan bahwa sistem penilaian lomba mencakup dua tahapan utama, yaitu penilaian teknis desain dan kesesuaian tema saat di darat, serta tingkat keseimbangan layang-layang saat bermanuver atau terbang di udara.
Dari beragam bentuk yang mengudara, ragam karakter pewayangan Punakawan menjadi bintang utama yang mencuri perhatian penonton internasional.
“Jadi, selain mendapatkan hadiah, mereka yang menang akan mendapatkan kesempatan dibiayai oleh Konsulat Jenderal India untuk berlaga di festival terbesar,” terang Eri Cahyadi, Wali Kota Surabaya.
Sementara, salah satu peserta festival dari Magelang mengaku hal paling sulit secara teknis dalam menerbangkan layangan beragam bentuk adalah penempatan tali goci atau juga disebut tali puspang. Seperti layangan berbentuk Punakawan, ini harus diikat dengan 8 tali goci agar penarikan media layang-layang tepat saat terdorong angin. Ia dan kelompoknya membawa sekitar 20 item layang-layang berbagai motif. Untuk satu layang-layang biasa menghabiskan anggaran pembuatan sampai Rp1 juta.
“Paling sulit penempatan tali goci, Mas. Di layangan ini ada 8-10 ikatan. Ada sekitar 2 minggu untuk mempersiapkan bentuk dan layak terbangnya,” ungkap Damar, peserta Kite Festival asal Magelang.
Para peserta mengaku antusias dengan festival yang diadakan. Selain mengasah kreativitas, festival juga jadi ajang ikon budaya Jawa Timur, terutama kawasan pesisir di tengah musim kemarau. Pasalnya, budaya menerbangkan layang-layang biasa dilakukan masyarakat tradisional sebagai cara mengisi musim kemarau yang kaya dengan hembusan angin.
Reporter: Guntur Yudinata
Editor: Yasin Al Raviri
